Sabtu, 30 Maret 2019

LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS MEMENANGKAN PILKADES


  1. Tujuan langkah-langkah strategis dalam upaya memenangkan pemilihan Kepala Desa adalah untuk meraih perolehan suara sebanyak mungkin sehingga mengungguli perolehan suara yang didapat oleh pihak lawan. Apabila dicermati lebih dalam ada berbagai macam cara langkah strategis yang dapat ditempuh agar dapat memenangkan Pemilihan Kepala desa, tinggal bagaimana kepiawaian mengetrapkan cara itu dan kecerdikan dalam memilih cara yang paling dianggap tepat sesuai dengan situasi dan kondisi terbaru yang berkembang dilapangan. Bahwa masing-masing desa tentu situasi dan kondisi budaya masyarakatnya berbeda, oleh karena itu calon Kepala Desa harus cermat memilih strategi yang tepat untuk meluluhkan hati warga desa sehingga menjatuhkan pilihan sesuai harapan yang diinginkan oleh calon Kepala desa itu. Secara lebih spesifik di sini coba penulis kemukakan tentang strategi memenangkan Pemilihan Kepala desa berdasarkan pengamatan dan pengalaman empiris dilapangan.

Persaingan upaya memperebutkan dukungan warga yang dilakukan oleh para calon Kepala Desa adalah hal yang wajar karena untuk menang dalam pemilihan Kepala Desa adalah meraih dukungan warga sebanyak-banyak sehingga unggul dalam perolehan suara dari calon yang lain. Masing-masing calon tentu saling mengeluarkan jurus terbaiknya untuk menarik simpati warga. Berikut ini cara-cara yang dapat diterapkan menarik simpati warga.
4.1.Membangun kesan/citra baik.
Semua calon pemimpin yang dalam penentuan kepemimpinannya ditentukan dengan dukungan rakyat, maka mereka akan menjaga kesan/citra baiknya sebagai modal utama meraih dukungan. Tak terkecuali bagi mereka yang ingin terpilih menjadi Kepala Desa, mereka akan membangun citra baiknya sedemikian rupa agar meraih simpati warga sebanyak- banyaknya. Ada banyak cara dalam membangun kesan baik, tetapi secara garis besarnya, cara membangun kesan baik itu hanya dilakukan dengan langkah perbuatan nyata yang selaras dengan norma-norma agama, norma hukum, norma adat kebiasaan yang berkembang dikalangan masyarakat itu, maupun norma kepatutan. Idealnya semua orang punya kewajiban membangun citra baiknya, menjaga dan memeliharanya dengan baik tetapi seiring dengan dinamika kehidupan selalu saja ada godaan yang dapat merusak citra baik seseorang. Berbahagialah bagi seseorang yang kuat bersabar menahan segala godaan yang dapat merusak citra baik mereka karena orang yang dapat memelihara citra baiknya akan selalu dipercaya masyarakat.
Membiasakan diri mudah menyapa, suka memberi salam dan murah senyum kepada sesama warga, adalah hal yang sangat mendukung untuk membangun citra baik. Pada kenyataan dilapangan setiap menjelang Pemilihan Kepala Desa tiga hal tersebut selalu tak pernah lepas dari pergunjingan warga desa. Seseorang calon yang terbiasa melakukan tiga hal tersebut akan berkesan baik di mata masyarakat dan menjadi penilaian tersendiri di hati warga desa.
Bagi orang yang berminat ikut pemilihan Kepala Desa, cara membangun citra baik itu baiknya dipersiapkan sejak jauh hari, jangan membangun citra baik secara instan, tiba-tiba, hanya karena menjelang Pemilihan Kepala Desa karena hal yang di luar kebiasaan akan mendapat penilaian janggal di mata masyarakat. Misalkan si calon itu mempunyai watak seorang pendiam, jarang menyapa orang, pelit senyum, menjelang Pemilihan Kepala Desa tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat menjadi orang yang suka tegur sapa dan murah senyum, hal ini justru menjadi aneh karena di situ watak dasar akan tetap terbawa dan tingkah lakunya menjadi tampak canggung, cara menyapa, cara memberi salam, maupun senyum yang tersungging tidak seperti biasanya dan terkesan dibuat-buat, kiranya hanya pemain sandiwara yang professional saja yang dapat melakukan perubahan mimik wajah dari watak dasarnya dalam waktu singkat, hal ini akan dinilai negative oleh warga desa di mana mereka beranggapan bahwa hanya kalau ada maunya saja berlaku demikian. Untuk menarik simpati warga lebih baik berlaku apa adanya, kerjakan sesuatu yang baik itu dengan giat tetapi dilaksanakan dengan natural artinya melakukan sesuatu kegiatan dengan wajar, iklas, tidak dibuat-buat. Percaya pada potensi yang dianugerahkan Tuhan pada diri sendiri , tidak meniru watak dasar calon lain dan tidak menjiplak langkah yang dijalankan oleh calon lain akan jauh lebih baik dan justru di sini yang membedakan ciri khas khusus bahkan tidak menutup kemungkinan sikap ini yang disukai warga desa.
Membangun citra diri ini sebaiknya tidak dilakukan sendirian, keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam ikut membangun citra juga sangat berpengaruh besar. Cara membangun citra yang paling mudah yaitu selalu membangun tali silaturahmi dengan semua lapisan masyarakat, jadi teladan di masyarakat dalam segala aspek, langkah-langkah itu dilakukan sedikit demi sedikit tetapi dalam jangka waktu lama tanpa terasa pada saat yang dibutuhkan pencitraan itu akan menjadi senjata ampuh meraih dukungan warga, mereka yang secara konsisten melakukan langkah ini akan menuai hasil yang mengejutkan yaitu dukungan masyarakat yang cukup luas. Dan mereka tidak ketinggalan start dalam berpacu dengan waktu menarik simpati mencari pendukung sejati.
4.2.Kegiatan yang memberi kesan mendalam bagi pribadi-pribadi .
Pada masyarakat pedesaan ada beberapa momen yang mempunyai arti mendalam bagi pribadi yang sedang melakoni di mana momen ini sangat baik untuk dimanfaatkan tebar pesona, namun demikian perlu diingat bahwa memanfaatkan momen itu harus dilandasi rasa ikhlas (Sincerity) sebab apabila tidak dilandasi keikhlasan hati akan terbaca oleh  masyarakat bahwa itu hanya pamrih dan hanya sekedar tebar pesona menarik simpati warga karena menjelang pilkades. Jika hal ini sampai terbaca demikian maka ini merupakan Kesalahan besar (blunder) di mana dengan kesalahan ini tidak akan didapat hasil positif apa-apa justru sebaliknya yang diperoleh penilaian negatif. Agar langkah ini berjalan halus dan mulus buatlah langkah ini sewajar mungkin dan supaya tidak terkesan tiba-tiba jadi berubah drastis menjadi sosok yang sangat baik karena pamrih pilkades, sebaiknya langkah ini dilakukan jauh sebelum pelaksanaan pilkades dan sebelum orang tahu bahwa anda akan maju dalam pilkades. Momen yang berkesan mendalam itu antara lain sebagai berikut :
1)      Menjenguk orang sakit
Besuk atau menjenguk orang yang sedang menderita sakit mempunyai arti yang sangat mendalam baik si penderita sakit maupun keluarganya. Mereka merasa sangat anda perhatikan dan merasa tersanjung dengan kehadiran anda. Apalagi jika yang sedang menderita sakit itu adalah dari kalangan bawah, kehadiran anda sangat berarti bagi mereka, apa yang anda katakan maupun apa yang anda berikan kepada mereka akan merasuk dalam ingatan yang tak terlupakan sepanjang masa.
2)      Melayat orang meninggal
Usahakan sedapat mungkin hadir melayat orang yang meninggal dunia, lakukan cara melayat yang baik, jika anda dan yang meninggal dunia seorang Muslim ikuti sholat jenazah, berdo’a dihadapan jenazah, setelahnya upayakan dapat menemui keluarga yang ditinggalkan seraya mengucap ikut berbela sungkawa, pada saat pemberangkatan jenazah usahakan berdiri di dekat pemberi tausiyah pemberangkatan, sukur kalau sedang ada rezeki lebih dapat juga membawa buah tangan berupa : jika anda seorang perempuan anda dapat membawa sembako, jika laki-laki dapat membawa minuman air mineral atau rokok, atau lainnya karena membawa barang itu akan mudah dikenang. Jika masih agak lama menunggu pemberangkatan jenazah, bangkitkan nyali manfaatkan waktu yang ada untuk bersalaman dengan pelayat lainnya arahkan pandangan mata anda kepada teman jabatangan dalam suasana keakraban, semakin banyak tentu semakin baik. Cari teman berbincang dan upayakan berdiri pada tempat yang mudah pandang dari semua sudut. Jangan canggung karena dipandang banyak orang. Jika anda laki-laki dan punya kemampuan tenaga yang cukup kuat ikutlah memikul jenazah pada awal pemberangkatan. Jika anda non Muslim lakukan cara melayat yang baik sesuai dengan tuntunan keyakinan anda tanpa membuat sesuatu hal yang menyolok menyinggung  Langkah ini mempunyai keuntungan ganda, yang pertama akan berkesan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan kedua langkah ini tanpa sadar akan mendapat perhatian positif dari pelayat lain karena itu nama anda dengan segera dikenal dan dikenang sebagai sosok yang baik.
3)      Memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.
Jika ada seseorang yang perlu ditolong sebaiknya tanpa diminta segera memberikan pertolongan yang diperlukan, apabila anda tidak mampu menolongnya anda segera minta bantuan orang lain untuk bersama-sama memberi pertolongan kepada orang itu. Aktifitas anda dalam upaya memberi pertolongan itu akan berkesan mendalam terhadap seseorang yang anda tolong bahkan tak jarang mereka menganggap anda sebagai dewa penolong.
4)      Mensuport pejabat yang telah purna tugas.
Pejabat yang purna tugas baik karena purna dengan hormat apalagi purna tugas belum waktunya karena sesuatu hal, sedikit banyak akan mengalami kegalauan hati karena mengalami perubahan situasi permanen yang membebani pikiran dan mempengaruhi suasana psykologinya. Misalkan seseorang itu sebelumnya adalah Kepala Desa atau Perangkat desa, mereka biasanya secara rutin pada jam tertentu ada dikantor sibuk dengan bidang tugasnya, banyak orang yang datang membutuhkan dirinya untuk berbagai keperluan, di rumahpun juga banyak tamu yang datang dengan bermacam-macam keperluan, tiga-tiba saja ia tidak punya kewenangan untuk memberikan pelayanan itu, sebagai akibatnya tidak ada tamu yang datang ke rumahnya, dan ia merasa sudah tidak diperhitungkan orang lagi, merasa dirinya tak berguna lagi, merasa seperti semua orang menjauhi dirinya. Suasana galau seperti ini sedang menghimpit dirinya, perasaannya begitu tertekan dan dirundung kesedihan. Jika pada saat-saat seperti ini anda datang menjenguknya, memberi semangat, menyatakan ikut merasakan kegalauan itu. Kehadiran itu sungguh akan berkesan sangat dalam bagi mantan pejabat itu.
5)      Menghadiri acara kondangan
Bagi kalangan warga pedesaan yang masih terjaga rasa kekeluargaan antar tetangga, rajin menghadiri acara kondangan merupakan sesuatu yang menjadi catatan tersendiri bagi warga yang mengundangnya, upayakan kepala keluarga hadir secara pribadi tidak diwakilkan kepada anggota keluarga yang lain, mereka sangat merasa mendapat kehormatan yang tiada tara atas kehadiran itu, warga lain juga mencatat bahwa keluarga anda sangat perhatian dan kepedulian terhadap sesama tetangga. Dalam acara kondangan yang diundang itu tidak mempertimbangkan unsur sara, jika secara kebetulan acara kondangan itu dilaksanakan tidak sesuai dengan keimanan, hal itu jangan dijadikan alasan untuk tidak menghadiri acara itu kecuali karena sakit, yang terpenting pada saat berdo’a tetap dilakukan sesuai ketentuan keimanan itu. Kehadiran dalam forum ini dapat dimanfaatkan untuk membina silaturahmi dan komunikasi antar tetangga. Rajin menghadiri acara seperti ini dapat menimbulkan kesan baik di lingkungan sekitar itu.
6)      Menghadiri kumpulan kegiatan keagamaan
Mengikuti kegiatan rutin keagamaan yang berkembang di desa yang sesuai dengan keimanan dan hadir secara aktif merupakan kredit point tersendiri, dengan duduk sebagai pengurus kelompok itu dan dapat mewarnai langkah gerak dari kelompok keagamaan itu menuju kearah kemajuan, lambat laun tetapi pasti dengan langkah ini akan mulai tampak ketokohan seseorang dan akan dicatat dalam kesan baik anggota kelompok itu sebagai tokoh dilingkungan perkumpulan itu.
7)      Menghadiri giat kerja bakti.
Rajin hadir secara pribadi pada setiap ada giat kerja bakti di kampung merupakan suatu kesan tersendiri bagi warga kampong, akan lebih baik bila hadir dengan membawa peralatan kerja biasa saja yang sekiranya mampu menggunakan alat kerja itu. Ajang kerja bakti merupakan wahana silaturahmi menjalin keakraban yang sangat merakyat, pada diri orang-orang yang membaur dalam kerja bakti itu timbul kebersamaan saling bergotong-royong menyelesaikan tugas bersama itu. Pada kegiatan ini di sela-sela bekerja akan timbul komunikasi yang akrab dengan mengabaikan status masing-masing, biasanya akan lebih akrab bila diselingi dengan canda dan menikmati hidangan yang tersedia ala kadarnya. Pada kesempatan ini akan lebih sempurna apabila membawa buah tangan berupa makanan, rokok barang beberapa bungkus, kuwe sederhana misal ubi/ketela rebus plus minuman. Tujuan langkah ini di samping sebagai bentuk kepedulian dalam bermasyarakat yang baik, juga untuk menjaga kesan baik jangan sampai disebut kikir.
8)      Menghadiri hajatan penikahan, khitanan atau lainnya.
Rajin menghadiri undangan hajatan juga mempunyai penilaian tersendiri bagi masyarakat pedesaan. Menghadiri acara hajatan itu juga bermanfaat sebagai ajang silaturahmi dan memperlihatkan diri terhadap khalayak ramai sehingga mudah dikenali masyarakat. Utamanya bagi yang punya hajat kehadiran dengan pakaian terbaik yang akan berkesan mendalam bagi tuan rumah karena merasa mendap penghormatan yang tak ternilai harganya karena hadir secara pribadi suami isteri dengan pakaian kebesaran. Bagi mereka nilai uang bukan persoalan tetapi kehadiran itu yang memberi kesan mendalam yang menjadi kenangan sepanjang masa.
9)      Menghadiri undangan rapat-rapat
Rajin menghadiri undangan rapat-rapat desa/lingkungan juga mempunyai penilaian tersendiri bagi masyarakat pedesaan. Menghadiri acara rapat itu juga bermanfaat sebagai ajang silaturahmi dan menampilkan diri terhadap khalayak ramai sehingga mudah dikenali masyarakat. Utamanya bagi pihak yang mengundang, kehadiran dalam rapat dengan pakaian rapi memberi kesan menghormati yang mengundangnya. Upayakan dalam rapat tersebut ikut bicara menyampaikan pendapat, hal ini di samping untuk menunjukan kualitas diri juga memberi kesan bahwa selalu memperhatikan dan mengikuti dengan sksama jalannya rapat itu. Penyampaian pendapat hendaknya dilakukan dengan  intonasi nada yang rendah, santun, tenang, bahasa yang mudah dipahami peserta rapat sehingga apa yang sampaikan dapat dimengerti oleh peserta rapat. Bagi peserta rapat kehadiran, penyampaian pendapat yang baik sangat bermanfaat dan akan memberi kesan mendalam .

      Sebetulnya jika dicermati lebih jauh, masih banyak momen-momen yang bisa dimanfaatkan untuk memperdalam kesan baik, tetapi secara garis besarnya untuk membangun citra baik di masyarakat gunakanlah ilmu meringankan diri, artinya begini : “ Ringankan kaki untuk datang menghadiri kegiatan yang positif, ringankan tangan untuk bersedekah dan memberi pertolongan kepada yang  membutuhkan, ringankan bibir untuk memberi senyum dan bicara dengan kata yang menyejukkan”.
Jika hal ini dijalankan dengan ikhlas, dapat dipastikan citra baik akan terbangun dengan indah dan dapat menjadi modal utama dalam pilkades.


4.3.Manajemen waktu menjalankan strategi.
Sudah menjadi ketentuan Tuhan Yang Maha Esa bahwa waktu tidak akan pernah berjalan mundur dan akan terus tidak berhenti berjalan maju, oleh karena itu dalam segala hal setiap waktu yang ada seyogyanya harus dimanfaatkan sebaik baiknya. Demikian juga dalam Pilkades, bukankah pelaksanaan Pilkades itu ada ketetapan hari pelaksanaannya, dengan demikian ada batasan waktu tertentu yang tersedia bagi para calon Kepala Desa untuk meraih simpati mencari dukungan warga desa. Mereka yang cerdas dan cermat sangat memperhatikan pemanfaat waktu yang terbatas itu dengan se efektif mungkin karena tidak ingin kehilangan waktu percuma untuk hal-hal yang tidak produktif. Berikut ini cara memanfaatkan waktu untuk menghadapi pemilihan Kepala Desa :
4.3.1.      Pemanfaatan waktu.
Pemanfaatan waktu dalam menjalankan strategi mempunyai arti yang sangat penting, karena pada dasarnya strategi sebagus apapun tingkat keberhasilannya sangat bergantung dengan waktu yang tersedia dan tepatnya waktu pelaksanaan. Kapan waktunya pemilihan sejak jauh hari sudah dapat diprediksi. Oleh karena itu masing-masing calon biasanya sejak jauh hari sudah mulai mempersiapkan diri, ibarat adu lari ada yang terang terangan mencuri kesempatan lebih dulu dengan caranya masing-masing mulai tebar pesona mencari simpati warga. Ada yang secara diam diam mulai melaksanakan langkah-langkah terselubung agar tidak diketahui oleh pihak lain. Waktu yang berlalu tidak dapat diulang lagi, kehilangan waktu merupakan kerugian besar karena sama dengan kehilangan kesempatan yang sangat berharga pada momen penting tertentu. Persiapan diri yang terlalu dini atau terburu buru juga tidak terlalu baik karena dengan lamanya persiapan tentu akan melelahkan juga banyak membutuhkan biaya, apa lagi strategi yang dijalankan tidak tepat waktunya akan dapat berakibat kontra produktif. Misalnya begini, waktu Pilkades masih kurang tiga tahun anda telah memproklamirkan diri dengan alasan lebih awal mengibarkan bendera pencalonan lebih baik. Sepintas kelihatannya strategi ini baik karena lebih banyak waktu dalam mempersiapkan diri dalam menjalankan strateginya. Tetapi bila dicermati lebih mendalam maka akan tampak kelemahannya. Orang tentu akan menilai bahwa setiap langkah yang anda lakukan itu tidak benar-benar dijalankan secara ikhlas karena ada pamrih dalam rangka pilkades, akibatnya pencitraan dirinya akan menjadi kurang baik, bukankah citra orang yang baik itu adalah orang yang ikhlas dalam berbuat kebaikan ?. Di samping itu ia akan mulai mendapat rival dari orang-orang yang punya minat yang sama, terutama dari in cumbent, bukankah pada umumnya in cumbent itu punya pengaruh yang kuat karena masih menjabat, tentu tidak enak punya banyak rival karena mereka itu akan berbuat hal yang kontra produktif memusuhi anda. Mengibarkan bendera pencalonan terlalu dini akan membuat langkah strategis anda dibaca lawan dan tentunya kalau strategi sudah terbaca, maka lawan akan dengan mudah mematahkannya. Belum lagi adanya biaya operasi simpatik yang makin melebar, karena sudah tentu akan banyak orang orang yang sengaja memanfaatkan kesempatan dengan aneka ragam dalih dan cara akan menggerogoti keuangan anda, misalnya lingkungan butuh dana untuk ngecat gapuro, maka dengan serta merta orang akan tertuju pada anda untuk mendapatkan dana, demikian juga misalnya lingkungan butuh seragam untuk gerak jalan, anda tentu akan menjadi sasaran empuk untuk memenui kebutuhan itu, manakala anda menolak maka mulai saat itu juga anda kehilangan simpati dukungan, demikian kira-kira yang bisa terjadi. Kesempatan yang cukup memang diperlukan tetapi seharusnya pemanfaatan waktu itu dipilah sedemikian rupa sehingga pemanfaatannya selaras dengan strategi yang diterapkan dan tidak ada waktu yang mubadir terbuang percuma tanpa memperoleh hasil yang produktif yang diharapkan.
Berikut penulis paparkan gambar pemilahan waktu sebagaimana di bawah ini :




HARI “ H “  PELAKSANAAN PILKADES

H – 3 bulan

H – 6 bulan

H – 1 tahun

H – 2 tahun

H –  tak terbatas





   
Gambar 4.1. Pemilahan waktu untuk melaksanakan giat strategi

Gambaran pemilahan waktu ini untuk memudahkan anda menyusun strategi yang tepat dan efektif. Misalnya pada jauh sebelumya anda harus berbuat apa untuk mendapat simpati masyarakat, selanjutnya pada H-2 tahun harus bagaimana, sampai mengerucut ke H-1 tahun, H-6 bulan dan selambat-lambatnya pada H-3 bulan anda harus sudah menentukan sikap kapan mulai memproklamirkan diri mengibarkan bendera pencalonan Kepala Desa.
Pemilahan waktu dapat anda kembangkan sendiri disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan situasi. Bila waktu hari “H” sudah semakin mendekat anda dapat melakukan pemilahan dengan mingguan bahkan sampai dengan harian. Pemilahan waktu untuk menyusun rencana giat ini penting dilakukan agar setiap giat yang dilakukan berada pada saat yang tepat sehingga rencana yang diharapkan tepat waktu tepat sasaran dan akan didapat hasil yang maksimal.
4.3.2.         Langkah giat tak produktif  yang  banyak menyita waktu.
Kesibukan seorang calon Kades pada masa-masa menjelang pemilihan tentu sangat luar biasa, banyak acara-acara yang harus mereka hadiri secara pribadi, misalnya ada undangan pertemuan yang memang sengaja dipersiapkan oleh tim sukses, atau anjangsana kerumah-rumah warga. Oleh karena padatnya acara yang harus dihadiri secara pribadi maka harus pandai memanfaatkan waktu. Hindari langkah-langkah tidak efektif yang banyak menyita waktu. Langkah-langkah tidak efektif itu biasanya terjadi sebagai berikut :
Ø  Pada waktu bertamu saat anjangsana ngobrol terlalu lama di salah satu rumah warga, sehingga banyak menyita waktu, mestinya sudah banyak rumah yang dikunjungi jadinya hanya terpaku disuatu tempat.
Ø  Sering  bepergian ke paranormal, pelancongan atau kegiatan tak produktif lainnya keluarkota yang memakan waktu sehari penuh, pada hal jauh lebih efektif apabila waktu itu digunakan untuk anjangsana ke rumah-rumah warga.
Ø  Bermalas-malasan dirumah pada hal calon lain sedang giat mencari dukungan warga.
Ø  Bagi yang suka tidur, tidur itu perlu untuk kesehatan badan, tetapi perlu diingat bahwa saat ini sedang giat-giatnya persaingan mencari dukungan, tidurlah secukupnya jangan tidur terlalu berlebihan sehingga banyak waktu terbuang hanya untuk tidur.
4.3.3.      Langkah efektif mencegah pemborosan waktu.
Para pendukung atau kader sangat berharap agar jagonya menang dalam pemilihan. Mereka banyak memberikan berbagai macam sumbang saran dan pendapat Bakal Calon Kades, banyaknya saran dan pendapat itu membuat bingung dan tidak tahu langkah mana yang harus diambil. Jika saran dan pendapat itu tidak diikuti takut kalau dukungannya dialihkan ke calon yang lain, jika diikuti maka kegiatan menjadi padat sekali. Padatnya kegiatan dalam rangka mencari dukungan bila tidak ditata sedemikan rupa dapat menimbulkan kegiatan yang tumpang tindih sehingga menjadi banyak waktu terbuang percuma. Guna menghindari langkah giat tak produktif  dan terbuangnya waktu yang sangat berharga, diperlukan adanya rencana kerja. Rencana kerja dapat dibuat beberapa versi sesuai kebutuhan yaitu jangka panjang, jangka menengah maupun jangka pendek, contoh rencana kerja dapat dilihat pada lampiran. Rencana kerja ini hendaknya dijalankan secara konsisten agar terhindar dari penyimpangan giat yang tak perlu. Pada kegiatan mingguan atau bulanan, perlu ada Daftar Rencana Giat yang dibuat di atas papan tulis dengan ukuran sesuai kebutuhan, untuk ditempel ditembok yang mudah terlihat. Contoh daftar rencana giat pada gambar table berikut ini :

Gambar 4.2. Contoh Tabel Rencana Giat

No.
Uraian giat
Pelaksanaan
Tempat
Keterangan
Hari
Tgl
Jam                                                 
1
2
3
4
5
6
7

1.



Anjangsana kerumah warga.


Sabtu



1/9/12



15.30
s/d
18.30

RT. 1 – RW.I



Sholat magrib di Musolla RT.1.

2.
mengikuti Tahlil umum

19.00
s/d
21.00
Siap materi sambutan
3.
Gerak jalan pagi & senam jantung sehat.
Minggu
2/9/12
05.00
s/d
07.30
Balai desa
Bersama keluarga
4.
Menghadiri temu tani
09.00
s/d
10.30
Pondok tani sawah dukuh Pakel
Dan seterusnya.

Papan Daftar  Rencana Giat ini perlu untuk mengontrol rencana kegiatan yang akan dilakukan agar terprogram dengan rapi, tidak terjadi tumpang tindih kegiatan, serta menghindari kelupaan.

4.4.      Memulai mengumumkan pencalonan diri.
Salah satu langkah penting yang harus dilakukan oleh seseorang yang mencalonkan diri dalam Pilkades adalah mengumumkan pernyataan sikap pencalonan dirinya dalam Pilkades kepada masyarakat. Kenapa ini harus dilaksanakan ? jawabnya karena dengan pengumuman itu akan menghilangkan keragu-raguan masyarakat tentang pencalonannya, dan sejak saat itu dalam pandangan masyarakat statusnya sudah berubah menjadi sosok kandidat bakal calon Kepala Desa. Secara berantai dari mulut ke mulut mulai dikenal masyarakat sebagai calon Kepala Desa. Sejak saat itu masyarakat mulai menimbang-nimbang sepak terjangnya selama ini, baik itu hal yang buruk maupun yang baik. Itu wajar karena masyarakat memang berhak menilai dan menimang-nimang calon Kepala Desa yang akan dipilihnya. Prinsip dalam menyatakan sikap pencalonan itu dinyatakan dihadapan orang banyak. Terdapat 3 (tiga) cara yang dapat ditempuh dalam mengumumkan pencalonan diri, yaitu :
4.4.1.      Cara Pertama : si bakal calon  mendatangkan warga.
Cara ini dapat dinilai cukup efektif dan efisien karena tidak banyak membutuhkan tenaga. Si bakal calon mencari momen yang tepat untuk mengundang orang-orang yang dikehendaki. Cara mengundang warga dapat kemas dengan berbagai macam acara yang lazim dilakukan warga desa. Acara akan lebih bermakna apabila diadakan dirumah si calon dengan ritual sederhana sesuai adat kebiasaan yang berkembang di desa itu.
Kelebihan cara ini si bakal calon Kades tidak banyak membutuhkan waktu dan tenaga dengan segera dapat bertatap muka dan dialog singkat dengan warga yang dikehendaki.
Sedangkan kelemahannya adalah :
1)      Ada biaya pengeluaran untuk konsumsi dan buah tangan (oleh-oleh) ;
2)      Tidak dapat berdialog empat mata secara timbal balik agar lebih familier dan mendalam karena terbatasnya waktu dan banyaknya tamu yang harus diperhatikan, dialog bersifat searah seperti dalam rapat ;

Gambar 4.3. contoh foto suasana pernyataan sikap mencalonkan diri menjadi calon Kepala Desa dilanjutkan ritual sederhana dengan pemotongan Tumpeng.

Dalam kesempatan itu sebaiknya diundang untuk hadir para calon kader yang dijadikan tim sukses, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda/ Karang Taruna, para ketua RT-RW dan para pejabat desa.
Cara pertama ini cocok diterapkan bagi bakal calon yang punya dana cukup dan punya masalah kesehatan yang tidak memungkin untuk beranjang sana ke rumah-rumah warga.

4.4.2.      Cara Kedua si Bakal calon mendatangi warga.
Cara ini dinilai tidak cukup efisien karena si Bakal Calon jemput bola beranjangsana ke rumah-rumah warga yang dikehendaki. Langkah ini tentu perlu banyak waktu dan banyak membutuhkan tenaga. Pada saat kunjungan anjangsana Bakal Calon Kades dapat memanfaatkan kalangan terdekatnya untuk diajak ikut serta anjangsana ke rumah-rumah warga. Langkah ini bertujuan untuk memberi dorongan muril kepada bakal calon kades dalam meraih simpati warga yang didatangi.
Kelebihan cara ini si bakal calon Kades tidak banyak membutuhkan biaya dan sangat besar pengaruhnya untuk mendapat simpati warga karena dapat bertatap muka dan dialog langsung dari hati ke hati menjalin keakraban dan kekeluargaan yang lebih mendalam dengan warga yang dikehendaki.
Sedangkan kelemahannya adalah :
1)      Memerlukan waktu yang cukup panjang ;
2)      Kemungkinan  terkendala oleh medan sulit atau gangguan cuaca;
3)      Butuh tenaga extra untuk perjalanan panjang yang melelahkan ;
Gambar 4.4. contoh foto suasana anjangsana menyampaikan pernyataan sikap mencalonkan diri menjadi calon Kepala Desa sambil beramah-tamah.

Dalam cara kedua ini pada awal anjangsana sebaiknya yang dikunjungi lebih awal adalah para calon kader yang dijadikan tim sukses, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda/ Karang Taruna, para ketua RT-RW dan para pejabat desa, selanjutnya mengadakan kunjungan ke semua lapisan masyarakat tanpa kecuali.
Cara kedua ini cocok diterapkan bagi bakal calon yang mempunyai dana sangat terbatas, tetapi punya tenaga cukup kuat berkeliling anjangsana kerumah-rumah warga, dan yang lebih penting lagi waktu yang tersedia leluasa.

4.4.3.      Cara Ketiga gabungan cara pertama dan cara kedua.
Cara ini dapat dinilai cukup efektif dan produkti karena dapat menutupi kekurangan cara pertama dan cara kedua. Penggabungan cara ini akan saling mempertajam pengaruh dan memperkokoh dukungan warga terhadap pencalonannya.
Cara ketiga ini cocok diterapkan bagi bakal calon yang punya modal dana cukup kuat ditunjang dengan tenaga yang kuat pula untuk beranjangsana ke rumah-rumah warga.

4.5.      Perekrutan tim sukses/kader.
Perekrutan kader lapangan yang juga sebagai anggota Tim Sukses sangat membantu kelancaran pelaksanaan strategi untuk meraih dukungan. Ibarat sebuah mobil Tim Sukses adalah mesin penggeraknya sedangkan Kader Lapangan adalah roda yang selalu siap berputar digerakan oleh Tim Sukses itu. Tim sukses idealnya dipilih dari orang yang pandai mengatur trategi, enerjik, mempunyai pengaruh besar di masyarakat, kharismatik dan berwibawa serta mau, mampu dan ada waktu untuk memperjuangkan pemenangan bakal calon. Sedangkan kader lapangan sebaiknya dipilih dari orang-orang yang mempunyai mobilitas tinggi seperti : tukang ojek, mlijo, pedagang keliling, para tokoh-tokoh masyarakat, dan lain sebagainya.
Tugas pokok tim sukses adalah memenangkan bakal calon kades yang diusungnya. Tim sukses dan kader yang baik adalah tim solid yang terbangun karena panggilan hati yang tulus ikhlas berjuang tanpa pamrih dan tak kenal lelah untuk kemenangan bakal calon yang jadi jagonya untuk tujuan mendudukan calon kades yang amanah demi mencapai harapan masa depan masyarakat yang lebih baik karena dipimpin orang yang tepat. Anggota tim sukses yang mengakar ini biasanya dari kalangan keluarga, kerabat dekat, bekas teman sekolah atau orang-orang tertentu yang mempunyai ikatan emosional dengan si bakal calon kades. Dalam perekrutan kader/tim sukses harus tetap berhati-hati karena tidak menutup kemungkinan ada orang yang sengaja disusupkan oleh pihak lawan untuk menusuk dari dalam dan memata-matai langkah strategi tim ini.
Kader terbaik dari suatu tim sukses tidak lain adalah si bakal calon Kades itu sendiri. Jika dibandingkan dengan kader yang paling kharismatik manapun mereka adalah tetap yang terbaik karena pada hakekatnya penentu kemenangan itu adalah si bakal calon kades itu sendiri. Oleh karena itu si bakal calon kades harus extra aktif dalam keterlibatan langsung pelaksanaan strategi pemenangannya. Saat menjelang pemilihan bakal calon kades ini menjadi tokoh sentral di mana segala sepak terjangnya terus menerus menjadi perhatian dan penilaian publik. Bakal Calon Kades menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan strategi dan langkah tindakan (Action) kepada tim sukses itu baik karena hal ini dapat menambah kepercayaan diri anggota Tim Sukses, tetapi pada saat-saat tertentu perlu mengadakan Tindakan Turun Tangan (tripel T) artinya terjun langsung secara aktif dilapangan karena hal ini begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan dukungan .
4.6.      Pemetaan karakter masyarakat desa dan peta pendukung.
Pemetaan bertujuan untuk mengetahui gambaran secara umum karakter masyarakat dan mengetahui secara garis besar yang dikehendaki masyarakat itu, dengan demikian memudahkan si Calon Kades mengatur strategi dengan menempatkan posisi dirinya ke suatu arah yang banyak mendapat dukungan masyarakat. Selain itu tujuan pemetaan ini untuk mengetahui letak dukungan sehingga memudahkan dalam membuat perencanaan strategi yang akan dilaksanaan. Berikut ini penjelasan pemetaan tersebut sebagai berikut :
4.6.1.      Pemetaan karakter masyarakat.
Langkah strategis dari calon yang cerdas adalah diawali dengan memetakan karakter masyarakat, tujuan pemetaan ini adalah untuk menyederhanakan wilayah garapan dan menentukan langkah strategi yang tepat pada komunitas masyarakat tertentu. Komunitas yang ada di Pedesaan pada umumnya sebagai berikut :
1)      Kelompok seniman : (anggota perkumpulan Kuda Lumping, ludruk, ketoprak, Wayang orang/kulit, drama, Musik, terbang  jidor, Reog, Tari, Ukir, Lukis dan sebagainya), komunitas ini sudah tentu mempunyai karakter khusus, untuk mendekati dan menarik simpatinya perlu dirumuskan strategi yang berkaitan dengan kesenian itu dan pengembangannya.
2)      Kelompok Ekonomi Pedesaan : Komunitas petani , komunitas masyarakat industry rumahan, komunitas pedang  pasar, komunitas buruh, dan lain-lain.
3)      Kelompok keagamaan :  komunitas masyarakat pegiat keagamaan baik muslim maupun non muslim, dan komunitas penggiat kepercayaan kepada Tuhan YME, 
4)      Kelompok Pemuda Olahraga : Komunitas Pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna, Komunitas Pemuda yang tergabung dalam kegiatan keagamaan, Komunitas pemuda yang tergabung dalam kelompok olahraga.
5)      Komunitas penggemar Vespa, Sepeda Ontel, dan lain-lain.
Berikut ini gambar 4.5. contoh table untuk mendata Kolompok/komunitas yang ada di desa dimaksud :
No.
Nama kelompok/komunitas
Tempat keberadaan/ jumlah anggota
Nama Ketua
Keterangan
1
2
3
4
5
1.
Jamaah Tahil / Yasin / Manakib ( Pria)
RW.1/
100 orang

Ustd Arifin
Kegiatan setiap malam jum’at
2.
Kelompok Tani
Sawah krajan/
25 orang


Ponari
Kumpul 1 bulan sekali di pondok pertemun sawah krajan
3.
Kelompok sepakbola
Se desa /
50 orang
Bambang
Latihan setiap minggu 3 kali
4.
Sepeda ontel
Se desa /
25 orang
Fauzi
Setiap Minggu pagi bersepeda bersama keliling kampong
5.
Kesenian Kuda lumping.
Dukuh Bocek
25 orang
Santiman
Latihan dua minggu sekali
6.
Dan seterusnya




Dengan pemetaan ini akan terdata berbagai kelompok atau komunitas yang terdapat di desa itu. Banyaknya kelompok atau komunitas yang muncul ke permukaan ini sebagai cerminan karakter maupun budaya masyarakat desa itu, hal ini untuk memudahkan dalam menyusun strategi jitu untuk menarik simpati masyarakat melalui keberadaan kelompok maupun komunitas yang berkembang di masyarakat tersebut. Misalnya pada saat hadir di pertemuan kelompok kesenian, akan mendapatkan perhatian lebih jika mengikuti alur yang sesuai dengan yang diinginkan kelompok itu. Demikian juga saat menghadiri kelompok komunitas yang lain, lebih baik mengikuti alur yang diinginkan kelompok itu dan memberikan dorongan moral kepada mereka, kecuali saat menghadiri kelompok keagamaan atau penghayat kepercayaan yang kebetulan berbeda keyakinan dengan si calon kades, isi pembicaraan harus tetap bijaksana, saling menghormati keyakinan masing-masing tanpa menyinggung perasaan komunitas itu. Yang perlu digaris bawahi bahwa : kunjungan kepada kelompok atau komunitas itu sudah memberi kesan positif karena merasa mendapat perhatian sehingga ada peluang besar orang-orang yang tergabung sebagai anggota kelompok atau komunitas itu menjatuhkan simpati dukungan kepada si calon Kades yang berkunjung itu,
4.6.2.      Pemetaan dukungan warga
Bagian dari penyusunan rencana strategis adalah memetakan banyaknya dukungan. Pemetaan banyaknya dukungan ini dibuat berorientasi pada komunitas yang telah dipetakan. Bersamaan dengan itu dapat pula dibuat dengan orientasi pada unsur kewilayahan , misalnya per RT / RW , Dusun atau Desa.
Gambar 4.6. Contoh table yang menggambarkan kekuatan dukungan :
                                   
  

No.
Wliayah/ Jumlah Hak Pilih

Perkiraan Kekuatan Dukungan(KIRKA)
Keterangan

2
Calonn A
CalonB
Calon C
Calon D
Calon E

1.
RW. I /
1000
15 %
25 %
20 %
30 %
10 %
Calon D unggul karena di wilayah ini banyak memiliki saudara
2.
RW. II /
1500
50 %
5 %
15 %
15 %
15 %
Calon A unggul mutlak di wilayah ini karena rumahnya terletak di sini dan sangat dikenal baik oleh masyarakat setempat
3.
RW.III /
2000
30 %
20 %
10 %
20 %
20 %
Calon A unggul di wilayah ini karena dikenal sangat baik oleh masyaraat setempat
Jml
3 RW
4500
(95%:3)=
31,7 %
(50%:3)=
16,7 %
(45%:3)=
15 %
(65%:3)=
21,7 %
(45%:3)=
15 %
Menurut prediksi sementara calon A unggul dengan 31,7 %





























Adanya pemetaan ini akan memberikan gambaran bagi Tim kerja untuk membuat perencanaan dalam menentukan target yang diinginkan, dengan demikian semua langkah-langkah strategis itu telah direncanakan dengan teliti, terprogram dengan rapi, sehingga setiap langkah gerak akan terkoordinasi dengan baik, dapat terlaksana dengan efisien dan efektif.


4.7.      Membuat rencana kegiatan dan perencanaan anggaran.
Di depan telah banyak diuraikan tentang berbagai macam kegiatan yang dapat dilakukan oleh bakal Calon Kepala Desa dalam rangka menjaring simpati warga dengan target sebanyak banyaknya menuju kemenangan Pilkades. Agar tidak terjadi tumpang tindih dan kesemrawutan dalam pelaksanaan kegiatan itu yang ujung ujungnya akan menimbulkan kebingungan dan pemborosan dana, maka perlu disusun rencana kegiatan sekaligus penganggarannya juga.  Rencana kegiatan dan penganggarannya dapat disusun sesuai contoh pada gambar 4.7. table berikut ini :
No.
Rencana kegiatan
tujuan kegiatan
Lamanya
Anggaran
1.
2.
3.
4.
5.
1.
Anjangsana dari rumah kerumah
Silaturahmi
3 bulan
3 juta
2.
Anjangsana ke komunitas  masyarakat tertentu
Silaturahmi
1 bulan
3 juta
3.
0




4.8.      Faktor Keberuntungan (Lucky)
Factor keberuntungan ini datangnya tidak diduga duga jenisnyapun beraneka ragam, karena hal ini adalah kehendak Tuhan YME. Ada suatu kisah nyata yang dapat penulis ceritakan sebgai berikut : di suatu desa (tidak perlu penulis sebut namanya), dalam pilkades terdapat dua calon Bacakades yang perbedaannya seperti bumi dan langit, satu kaya raya sedangkn Bacakades yang satunya miskin raya (amat miskin), pada saat pendaftaran semua persyaratan administrasi dapat dipenuhi oleh Bacakades, tetapi pada saat pemenuhan biaya pemilihan, bacakades yang satunya (yang miskin) sampai pada batas ketentuan toleransi waktu yang diberikan ia tidak dapat memenuhi karena keterbatasan dana, panitia dibuat kebingungan karena jika tidak diloloskan dalam pendaftaran maka hanya ada satu calon, setelah waktu terus di olor pada akhirnya ada pihak ketiga yang meminjami dana tersebut, karena merasa jengkel pihak pendukung si calon kaya raya nyeletuk omongan “ Gak punya uang kok ya ngotot nyalon “, rupanya berawal dari omongan yang bernada mencemooh itu timbul rasa iba dari yang mendengarnya, rasa iba itu beralih menjadi simpati dan terus meluas dari mulut ke mulut bergulir bagaikan bola salju. Akhirnya tanda diduga sebelumnya si Bacakades yang miskin raya dapat memenangkan pilkades. Bila ditelaah secara mendalam bahwa simpati itu timbul berawal dari perkataan yang bernada mengejek “ Gak punya uang kok ngotot mencalonkan diri “. Dari pengalaman ini  bisa dipahami bahwa soal kaya miskin dalam pilkades tidak dapat dijadikan ukuran, bagi siapa yang cerdik memanfaatkan situasi dan kondisi merekalah yang akan menuai kemenangan. Pandai-pandailah memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.