- Tujuan langkah-langkah strategis dalam upaya memenangkan pemilihan Kepala Desa adalah untuk meraih perolehan suara sebanyak mungkin sehingga mengungguli perolehan suara yang didapat oleh pihak lawan. Apabila dicermati lebih dalam ada berbagai macam cara langkah strategis yang dapat ditempuh agar dapat memenangkan Pemilihan Kepala desa, tinggal bagaimana kepiawaian mengetrapkan cara itu dan kecerdikan dalam memilih cara yang paling dianggap tepat sesuai dengan situasi dan kondisi terbaru yang berkembang dilapangan. Bahwa masing-masing desa tentu situasi dan kondisi budaya masyarakatnya berbeda, oleh karena itu calon Kepala Desa harus cermat memilih strategi yang tepat untuk meluluhkan hati warga desa sehingga menjatuhkan pilihan sesuai harapan yang diinginkan oleh calon Kepala desa itu. Secara lebih spesifik di sini coba penulis kemukakan tentang strategi memenangkan Pemilihan Kepala desa berdasarkan pengamatan dan pengalaman empiris dilapangan.
Persaingan upaya memperebutkan dukungan warga yang dilakukan
oleh para calon Kepala Desa adalah hal yang wajar karena untuk menang dalam
pemilihan Kepala Desa adalah meraih dukungan warga sebanyak-banyak sehingga
unggul dalam perolehan suara dari calon yang lain. Masing-masing calon tentu
saling mengeluarkan jurus terbaiknya untuk menarik simpati warga. Berikut ini
cara-cara yang dapat diterapkan menarik simpati warga.
4.1.Membangun kesan/citra baik.
Semua
calon pemimpin yang dalam penentuan kepemimpinannya ditentukan dengan dukungan
rakyat, maka mereka akan menjaga kesan/citra baiknya sebagai modal utama meraih
dukungan. Tak terkecuali bagi mereka yang ingin terpilih menjadi Kepala Desa,
mereka akan membangun citra baiknya sedemikian rupa agar meraih simpati warga
sebanyak- banyaknya. Ada banyak cara dalam membangun kesan baik, tetapi secara
garis besarnya, cara membangun kesan baik itu hanya dilakukan dengan langkah
perbuatan nyata yang selaras dengan norma-norma agama, norma hukum, norma adat
kebiasaan yang berkembang dikalangan masyarakat itu, maupun norma kepatutan.
Idealnya semua orang punya kewajiban membangun citra baiknya, menjaga dan
memeliharanya dengan baik tetapi seiring dengan dinamika kehidupan selalu saja
ada godaan yang dapat merusak citra baik seseorang. Berbahagialah bagi
seseorang yang kuat bersabar menahan segala godaan yang dapat merusak citra
baik mereka karena orang yang dapat memelihara citra baiknya akan selalu
dipercaya masyarakat.
Membiasakan
diri mudah menyapa, suka memberi salam dan murah senyum kepada sesama warga,
adalah hal yang sangat mendukung untuk membangun citra baik. Pada kenyataan
dilapangan setiap menjelang Pemilihan Kepala Desa tiga hal tersebut selalu tak
pernah lepas dari pergunjingan warga desa. Seseorang calon yang terbiasa melakukan
tiga hal tersebut akan berkesan baik di mata masyarakat dan menjadi penilaian
tersendiri di hati warga desa.
Bagi
orang yang berminat ikut pemilihan Kepala Desa, cara membangun citra baik itu
baiknya dipersiapkan sejak jauh hari, jangan membangun citra baik secara
instan, tiba-tiba, hanya karena menjelang Pemilihan Kepala Desa karena hal yang
di luar kebiasaan akan mendapat penilaian janggal di mata masyarakat. Misalkan
si calon itu mempunyai watak seorang pendiam, jarang menyapa orang, pelit senyum,
menjelang Pemilihan Kepala Desa tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat
menjadi orang yang suka tegur sapa dan murah senyum, hal ini justru menjadi
aneh karena di situ watak dasar akan tetap terbawa dan tingkah lakunya menjadi
tampak canggung, cara menyapa, cara memberi salam, maupun senyum yang
tersungging tidak seperti biasanya dan terkesan dibuat-buat, kiranya hanya
pemain sandiwara yang professional saja yang dapat melakukan perubahan mimik
wajah dari watak dasarnya dalam waktu singkat, hal ini akan dinilai negative
oleh warga desa di mana mereka beranggapan bahwa hanya kalau ada maunya saja
berlaku demikian. Untuk menarik simpati warga lebih baik berlaku apa adanya,
kerjakan sesuatu yang baik itu dengan giat tetapi dilaksanakan dengan natural artinya
melakukan sesuatu kegiatan dengan wajar, iklas, tidak dibuat-buat. Percaya pada
potensi yang dianugerahkan Tuhan pada diri sendiri , tidak meniru watak dasar
calon lain dan tidak menjiplak langkah yang dijalankan oleh calon lain akan
jauh lebih baik dan justru di sini yang membedakan ciri khas khusus bahkan
tidak menutup kemungkinan sikap ini yang disukai warga desa.
Membangun
citra diri ini sebaiknya tidak dilakukan sendirian, keterlibatan seluruh
anggota keluarga dalam ikut membangun citra juga sangat berpengaruh besar. Cara
membangun citra yang paling mudah yaitu selalu membangun tali silaturahmi
dengan semua lapisan masyarakat, jadi teladan di masyarakat dalam segala aspek,
langkah-langkah itu dilakukan sedikit demi sedikit tetapi dalam jangka waktu
lama tanpa terasa pada saat yang dibutuhkan pencitraan itu akan menjadi senjata
ampuh meraih dukungan warga, mereka yang secara konsisten melakukan langkah ini
akan menuai hasil yang mengejutkan yaitu dukungan masyarakat yang cukup luas.
Dan mereka tidak ketinggalan start
dalam berpacu dengan waktu menarik simpati mencari pendukung sejati.
4.2.Kegiatan
yang memberi kesan mendalam bagi pribadi-pribadi .
Pada
masyarakat pedesaan ada beberapa momen yang mempunyai arti mendalam bagi
pribadi yang sedang melakoni di mana momen ini sangat baik untuk dimanfaatkan
tebar pesona, namun demikian perlu diingat bahwa memanfaatkan momen itu harus
dilandasi rasa ikhlas (Sincerity) sebab apabila tidak dilandasi keikhlasan hati akan terbaca
oleh masyarakat bahwa itu hanya pamrih
dan hanya sekedar tebar pesona menarik simpati warga karena menjelang pilkades.
Jika hal ini sampai terbaca demikian maka ini merupakan Kesalahan besar (blunder) di mana dengan kesalahan ini tidak akan didapat hasil
positif apa-apa justru sebaliknya yang diperoleh penilaian negatif. Agar
langkah ini berjalan halus dan mulus buatlah langkah ini sewajar mungkin dan
supaya tidak terkesan tiba-tiba jadi berubah drastis menjadi sosok yang sangat
baik karena pamrih pilkades, sebaiknya langkah ini dilakukan jauh sebelum
pelaksanaan pilkades dan sebelum orang tahu bahwa anda akan maju dalam
pilkades. Momen yang berkesan mendalam itu antara lain sebagai berikut :
1)
Menjenguk orang sakit
Besuk atau menjenguk orang yang sedang menderita sakit
mempunyai arti yang sangat mendalam baik si penderita sakit maupun keluarganya.
Mereka merasa sangat anda perhatikan dan merasa tersanjung dengan kehadiran
anda. Apalagi jika yang sedang menderita sakit itu adalah dari kalangan bawah,
kehadiran anda sangat berarti bagi mereka, apa yang anda katakan maupun apa
yang anda berikan kepada mereka akan merasuk dalam ingatan yang tak terlupakan
sepanjang masa.
2)
Melayat orang
meninggal
Usahakan sedapat mungkin hadir melayat orang yang meninggal
dunia, lakukan cara melayat yang baik, jika anda dan yang meninggal dunia
seorang Muslim ikuti sholat jenazah, berdo’a dihadapan jenazah, setelahnya
upayakan dapat menemui keluarga yang ditinggalkan seraya mengucap ikut berbela
sungkawa, pada saat pemberangkatan jenazah usahakan berdiri di dekat pemberi
tausiyah pemberangkatan, sukur kalau sedang ada rezeki lebih dapat juga membawa
buah tangan berupa : jika anda seorang perempuan anda dapat membawa sembako,
jika laki-laki dapat membawa minuman air mineral atau rokok, atau lainnya
karena membawa barang itu akan mudah dikenang. Jika masih agak lama menunggu
pemberangkatan jenazah, bangkitkan nyali manfaatkan waktu yang ada untuk
bersalaman dengan pelayat lainnya arahkan pandangan mata anda kepada teman
jabatangan dalam suasana keakraban, semakin banyak tentu semakin baik. Cari
teman berbincang dan upayakan berdiri pada tempat yang mudah pandang dari semua
sudut. Jangan canggung karena dipandang banyak orang. Jika anda laki-laki dan
punya kemampuan tenaga yang cukup kuat ikutlah memikul jenazah pada awal
pemberangkatan. Jika anda non Muslim lakukan cara melayat yang baik sesuai
dengan tuntunan keyakinan anda tanpa membuat sesuatu hal yang menyolok
menyinggung Langkah ini mempunyai
keuntungan ganda, yang pertama
akan berkesan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan kedua langkah ini tanpa sadar akan mendapat perhatian positif
dari pelayat lain karena itu nama anda dengan segera dikenal dan dikenang
sebagai sosok yang baik.
3)
Memberi pertolongan
kepada mereka yang membutuhkan.
Jika ada seseorang yang perlu ditolong sebaiknya tanpa
diminta segera memberikan pertolongan yang diperlukan, apabila anda tidak mampu
menolongnya anda segera minta bantuan orang lain untuk bersama-sama memberi
pertolongan kepada orang itu. Aktifitas anda dalam upaya memberi pertolongan
itu akan berkesan mendalam terhadap seseorang yang anda tolong bahkan tak
jarang mereka menganggap anda sebagai dewa penolong.
4)
Mensuport pejabat yang
telah purna tugas.
Pejabat yang purna tugas baik karena purna dengan hormat
apalagi purna tugas belum waktunya karena sesuatu hal, sedikit banyak akan
mengalami kegalauan hati karena mengalami perubahan situasi permanen yang
membebani pikiran dan mempengaruhi suasana psykologinya. Misalkan seseorang itu
sebelumnya adalah Kepala Desa atau Perangkat desa, mereka biasanya secara rutin
pada jam tertentu ada dikantor sibuk dengan bidang tugasnya, banyak orang yang
datang membutuhkan dirinya untuk berbagai keperluan, di rumahpun juga banyak
tamu yang datang dengan bermacam-macam keperluan, tiga-tiba saja ia tidak punya
kewenangan untuk memberikan pelayanan itu, sebagai akibatnya tidak ada tamu
yang datang ke rumahnya, dan ia merasa sudah tidak diperhitungkan orang lagi,
merasa dirinya tak berguna lagi, merasa seperti semua orang menjauhi dirinya.
Suasana galau seperti ini sedang menghimpit dirinya, perasaannya begitu
tertekan dan dirundung kesedihan. Jika pada saat-saat seperti ini anda datang
menjenguknya, memberi semangat, menyatakan ikut merasakan kegalauan itu.
Kehadiran itu sungguh akan berkesan sangat dalam bagi mantan pejabat itu.
5)
Menghadiri acara
kondangan
Bagi kalangan warga pedesaan yang masih terjaga rasa
kekeluargaan antar tetangga, rajin menghadiri acara kondangan merupakan sesuatu
yang menjadi catatan tersendiri bagi warga yang mengundangnya, upayakan kepala
keluarga hadir secara pribadi tidak diwakilkan kepada anggota keluarga yang
lain, mereka sangat merasa mendapat kehormatan yang tiada tara atas kehadiran
itu, warga lain juga mencatat bahwa keluarga anda sangat perhatian dan
kepedulian terhadap sesama tetangga. Dalam acara kondangan yang diundang itu
tidak mempertimbangkan unsur sara, jika secara kebetulan acara kondangan itu
dilaksanakan tidak sesuai dengan keimanan, hal itu jangan dijadikan alasan
untuk tidak menghadiri acara itu kecuali karena sakit, yang terpenting pada
saat berdo’a tetap dilakukan sesuai ketentuan keimanan itu. Kehadiran dalam
forum ini dapat dimanfaatkan untuk membina silaturahmi dan komunikasi antar
tetangga. Rajin menghadiri acara seperti ini dapat menimbulkan kesan baik di
lingkungan sekitar itu.
6)
Menghadiri kumpulan
kegiatan keagamaan
Mengikuti kegiatan rutin keagamaan yang berkembang di desa
yang sesuai dengan keimanan dan hadir secara aktif merupakan kredit point
tersendiri, dengan duduk sebagai pengurus kelompok itu dan dapat mewarnai
langkah gerak dari kelompok keagamaan itu menuju kearah kemajuan, lambat laun
tetapi pasti dengan langkah ini akan mulai tampak ketokohan seseorang dan akan
dicatat dalam kesan baik anggota kelompok itu sebagai tokoh dilingkungan
perkumpulan itu.
7)
Menghadiri giat kerja
bakti.
Rajin hadir secara pribadi pada setiap ada giat kerja bakti
di kampung merupakan suatu kesan tersendiri bagi warga kampong, akan lebih baik
bila hadir dengan membawa peralatan kerja biasa saja yang sekiranya mampu
menggunakan alat kerja itu. Ajang kerja bakti merupakan wahana silaturahmi
menjalin keakraban yang sangat merakyat, pada diri orang-orang yang membaur
dalam kerja bakti itu timbul kebersamaan saling bergotong-royong menyelesaikan
tugas bersama itu. Pada kegiatan ini di sela-sela bekerja akan timbul
komunikasi yang akrab dengan mengabaikan status masing-masing, biasanya akan
lebih akrab bila diselingi dengan canda dan menikmati hidangan yang tersedia
ala kadarnya. Pada kesempatan ini akan lebih sempurna apabila membawa buah
tangan berupa makanan, rokok barang beberapa bungkus, kuwe sederhana misal
ubi/ketela rebus plus minuman. Tujuan langkah ini di samping sebagai bentuk
kepedulian dalam bermasyarakat yang baik, juga untuk menjaga kesan baik jangan
sampai disebut kikir.
8)
Menghadiri hajatan
penikahan, khitanan atau lainnya.
Rajin menghadiri undangan hajatan juga mempunyai penilaian
tersendiri bagi masyarakat pedesaan. Menghadiri acara hajatan itu juga
bermanfaat sebagai ajang silaturahmi dan memperlihatkan diri terhadap khalayak
ramai sehingga mudah dikenali masyarakat. Utamanya bagi yang punya hajat
kehadiran dengan pakaian terbaik yang akan berkesan mendalam bagi tuan rumah
karena merasa mendap penghormatan yang tak ternilai harganya karena hadir
secara pribadi suami isteri dengan pakaian kebesaran. Bagi mereka nilai uang
bukan persoalan tetapi kehadiran itu yang memberi kesan mendalam yang menjadi
kenangan sepanjang masa.
9)
Menghadiri undangan
rapat-rapat
Rajin menghadiri undangan rapat-rapat desa/lingkungan juga
mempunyai penilaian tersendiri bagi masyarakat pedesaan. Menghadiri acara rapat
itu juga bermanfaat sebagai ajang silaturahmi dan menampilkan diri terhadap
khalayak ramai sehingga mudah dikenali masyarakat. Utamanya bagi pihak yang
mengundang, kehadiran dalam rapat dengan pakaian rapi memberi kesan menghormati
yang mengundangnya. Upayakan dalam rapat tersebut ikut bicara menyampaikan
pendapat, hal ini di samping untuk menunjukan kualitas diri juga memberi kesan
bahwa selalu memperhatikan dan mengikuti dengan sksama jalannya rapat itu.
Penyampaian pendapat hendaknya dilakukan dengan
intonasi nada yang rendah, santun, tenang, bahasa yang mudah dipahami
peserta rapat sehingga apa yang sampaikan dapat dimengerti oleh peserta rapat.
Bagi peserta rapat kehadiran, penyampaian pendapat yang baik sangat bermanfaat
dan akan memberi kesan mendalam .
Sebetulnya jika
dicermati lebih jauh, masih banyak momen-momen yang bisa dimanfaatkan untuk
memperdalam kesan baik, tetapi secara garis besarnya untuk membangun citra baik
di masyarakat gunakanlah ilmu meringankan diri, artinya begini : “ Ringankan
kaki untuk datang menghadiri kegiatan yang positif, ringankan tangan untuk
bersedekah dan memberi pertolongan kepada yang
membutuhkan, ringankan bibir untuk memberi senyum dan bicara dengan kata
yang menyejukkan”.
Jika hal ini dijalankan dengan ikhlas, dapat dipastikan
citra baik akan terbangun dengan indah dan dapat menjadi modal utama dalam
pilkades.
4.3.Manajemen
waktu menjalankan strategi.
Sudah
menjadi ketentuan Tuhan Yang Maha Esa bahwa waktu tidak akan pernah berjalan mundur
dan akan terus tidak berhenti berjalan maju, oleh karena itu dalam segala hal
setiap waktu yang ada seyogyanya harus dimanfaatkan sebaik baiknya. Demikian
juga dalam Pilkades, bukankah pelaksanaan Pilkades itu ada ketetapan hari
pelaksanaannya, dengan demikian ada batasan waktu tertentu yang tersedia bagi
para calon Kepala Desa untuk meraih simpati mencari dukungan warga desa. Mereka
yang cerdas dan cermat sangat memperhatikan pemanfaat waktu yang terbatas itu
dengan se efektif mungkin karena tidak ingin kehilangan waktu percuma untuk
hal-hal yang tidak produktif. Berikut ini cara memanfaatkan waktu untuk
menghadapi pemilihan Kepala Desa :
4.3.1.
Pemanfaatan
waktu.
Pemanfaatan
waktu dalam menjalankan strategi mempunyai arti yang sangat penting, karena
pada dasarnya strategi sebagus apapun tingkat keberhasilannya sangat bergantung
dengan waktu yang tersedia dan tepatnya waktu pelaksanaan. Kapan waktunya
pemilihan sejak jauh hari sudah dapat diprediksi. Oleh karena itu masing-masing
calon biasanya sejak jauh hari sudah mulai mempersiapkan diri, ibarat adu lari
ada yang terang terangan mencuri kesempatan lebih dulu dengan caranya
masing-masing mulai tebar pesona mencari simpati warga. Ada yang secara diam
diam mulai melaksanakan langkah-langkah terselubung agar tidak diketahui oleh
pihak lain. Waktu yang berlalu tidak dapat diulang lagi, kehilangan waktu
merupakan kerugian besar karena sama dengan kehilangan kesempatan yang sangat
berharga pada momen penting tertentu. Persiapan diri yang terlalu dini atau
terburu buru juga tidak terlalu baik karena dengan lamanya persiapan tentu akan
melelahkan juga banyak membutuhkan biaya, apa lagi strategi yang dijalankan
tidak tepat waktunya akan dapat berakibat kontra produktif. Misalnya begini,
waktu Pilkades masih kurang tiga tahun anda telah memproklamirkan diri dengan
alasan lebih awal mengibarkan bendera pencalonan lebih baik. Sepintas
kelihatannya strategi ini baik karena lebih banyak waktu dalam mempersiapkan
diri dalam menjalankan strateginya. Tetapi bila dicermati lebih mendalam maka
akan tampak kelemahannya. Orang tentu akan menilai bahwa setiap langkah yang
anda lakukan itu tidak benar-benar dijalankan secara ikhlas karena ada pamrih
dalam rangka pilkades, akibatnya pencitraan dirinya akan menjadi kurang baik,
bukankah citra orang yang baik itu adalah orang yang ikhlas dalam berbuat
kebaikan ?. Di samping itu ia akan mulai mendapat rival dari orang-orang yang
punya minat yang sama, terutama dari in cumbent,
bukankah pada umumnya in cumbent itu punya pengaruh yang kuat karena masih menjabat, tentu
tidak enak punya banyak rival karena mereka itu akan berbuat hal yang kontra
produktif memusuhi anda. Mengibarkan bendera pencalonan terlalu dini akan
membuat langkah strategis anda dibaca lawan dan tentunya kalau strategi sudah
terbaca, maka lawan akan dengan mudah mematahkannya. Belum lagi adanya biaya
operasi simpatik yang makin melebar, karena sudah tentu akan banyak orang orang
yang sengaja memanfaatkan kesempatan dengan aneka ragam dalih dan cara akan
menggerogoti keuangan anda, misalnya lingkungan butuh dana untuk ngecat gapuro,
maka dengan serta merta orang akan tertuju pada anda untuk mendapatkan dana,
demikian juga misalnya lingkungan butuh seragam untuk gerak jalan, anda tentu
akan menjadi sasaran empuk untuk memenui kebutuhan itu, manakala anda menolak
maka mulai saat itu juga anda kehilangan simpati dukungan, demikian kira-kira
yang bisa terjadi. Kesempatan yang cukup memang diperlukan tetapi seharusnya
pemanfaatan waktu itu dipilah sedemikian rupa sehingga pemanfaatannya selaras
dengan strategi yang diterapkan dan tidak ada waktu yang mubadir terbuang
percuma tanpa memperoleh hasil yang produktif yang diharapkan.
Berikut
penulis paparkan gambar pemilahan waktu sebagaimana di bawah ini :
|
HARI
“ H “ PELAKSANAAN PILKADES
|
|
H – 3 bulan
|
|
H – 6 bulan
|
|
H – 1 tahun
|
|
H – 2 tahun
|
|
H
– tak terbatas
|
Gambar 4.1.
Pemilahan waktu untuk melaksanakan giat strategi
Gambaran
pemilahan waktu ini untuk memudahkan anda menyusun strategi yang tepat dan
efektif. Misalnya pada jauh sebelumya anda harus berbuat apa untuk mendapat
simpati masyarakat, selanjutnya pada H-2 tahun harus bagaimana, sampai
mengerucut ke H-1 tahun, H-6 bulan dan selambat-lambatnya pada H-3 bulan anda
harus sudah menentukan sikap kapan mulai memproklamirkan diri mengibarkan
bendera pencalonan Kepala Desa.
Pemilahan
waktu dapat anda kembangkan sendiri disesuaikan dengan kebutuhan dan
perkembangan situasi. Bila waktu hari “H” sudah semakin mendekat anda dapat melakukan
pemilahan dengan mingguan bahkan sampai dengan harian. Pemilahan waktu untuk
menyusun rencana giat ini penting dilakukan agar setiap giat yang dilakukan
berada pada saat yang tepat sehingga rencana yang diharapkan tepat waktu tepat
sasaran dan akan didapat hasil yang maksimal.
4.3.2.
Langkah giat tak
produktif yang banyak menyita waktu.
Kesibukan
seorang calon Kades pada masa-masa menjelang pemilihan tentu sangat luar biasa,
banyak acara-acara yang harus mereka hadiri secara pribadi, misalnya ada
undangan pertemuan yang memang sengaja dipersiapkan oleh tim sukses, atau
anjangsana kerumah-rumah warga. Oleh karena padatnya acara yang harus dihadiri
secara pribadi maka harus pandai memanfaatkan waktu. Hindari langkah-langkah
tidak efektif yang banyak menyita waktu. Langkah-langkah tidak efektif itu
biasanya terjadi sebagai berikut :
Ø Pada waktu bertamu saat anjangsana ngobrol terlalu lama di
salah satu rumah warga, sehingga banyak menyita waktu, mestinya sudah banyak
rumah yang dikunjungi jadinya hanya terpaku disuatu tempat.
Ø Sering bepergian ke
paranormal, pelancongan atau kegiatan tak produktif lainnya keluarkota yang
memakan waktu sehari penuh, pada hal jauh lebih efektif apabila waktu itu
digunakan untuk anjangsana ke rumah-rumah warga.
Ø Bermalas-malasan dirumah pada hal calon lain sedang giat
mencari dukungan warga.
Ø Bagi yang suka tidur, tidur itu perlu untuk kesehatan badan,
tetapi perlu diingat bahwa saat ini sedang giat-giatnya persaingan mencari
dukungan, tidurlah secukupnya jangan tidur terlalu berlebihan sehingga banyak
waktu terbuang hanya untuk tidur.
4.3.3.
Langkah efektif
mencegah pemborosan waktu.
Para
pendukung atau kader sangat berharap agar jagonya menang dalam pemilihan.
Mereka banyak memberikan berbagai macam sumbang saran dan pendapat Bakal Calon
Kades, banyaknya saran dan pendapat itu membuat bingung dan tidak tahu langkah
mana yang harus diambil. Jika saran dan pendapat itu tidak diikuti takut kalau
dukungannya dialihkan ke calon yang lain, jika diikuti maka kegiatan menjadi
padat sekali. Padatnya kegiatan dalam rangka mencari dukungan bila tidak ditata
sedemikan rupa dapat menimbulkan kegiatan yang tumpang tindih sehingga menjadi
banyak waktu terbuang percuma. Guna menghindari langkah giat tak produktif dan terbuangnya waktu yang sangat berharga,
diperlukan adanya rencana kerja. Rencana kerja dapat dibuat beberapa versi
sesuai kebutuhan yaitu jangka panjang, jangka menengah maupun jangka pendek,
contoh rencana kerja dapat dilihat pada lampiran. Rencana kerja ini hendaknya
dijalankan secara konsisten agar terhindar dari penyimpangan giat yang tak
perlu. Pada kegiatan mingguan atau bulanan, perlu ada Daftar Rencana Giat yang
dibuat di atas papan tulis dengan ukuran sesuai kebutuhan, untuk ditempel
ditembok yang mudah terlihat. Contoh daftar rencana giat pada gambar table
berikut ini :
Gambar
4.2. Contoh Tabel Rencana Giat
No.
|
Uraian giat
|
Pelaksanaan
|
Tempat
|
Keterangan
|
||
Hari
|
Tgl
|
Jam
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
1.
|
Anjangsana kerumah warga.
|
Sabtu
|
1/9/12
|
15.30
s/d
18.30
|
RT. 1 – RW.I
|
Sholat magrib di Musolla RT.1.
|
2.
|
mengikuti Tahlil umum
|
“
|
“
|
19.00
s/d
21.00
|
“
|
Siap materi sambutan
|
3.
|
Gerak jalan pagi & senam
jantung sehat.
|
Minggu
|
2/9/12
|
05.00
s/d
07.30
|
Balai desa
|
Bersama keluarga
|
4.
|
Menghadiri temu tani
|
“
|
“
|
09.00
s/d
10.30
|
Pondok tani sawah dukuh Pakel
|
Dan seterusnya.
|
Papan
Daftar Rencana Giat ini perlu untuk
mengontrol rencana kegiatan yang akan dilakukan agar terprogram dengan rapi,
tidak terjadi tumpang tindih kegiatan, serta menghindari kelupaan.
4.4.
Memulai
mengumumkan pencalonan diri.
Salah satu langkah penting yang harus dilakukan oleh
seseorang yang mencalonkan diri dalam Pilkades adalah mengumumkan pernyataan
sikap pencalonan dirinya dalam Pilkades kepada masyarakat. Kenapa ini harus
dilaksanakan ? jawabnya karena dengan pengumuman itu akan menghilangkan
keragu-raguan masyarakat tentang pencalonannya, dan sejak saat itu dalam
pandangan masyarakat statusnya sudah berubah menjadi sosok kandidat bakal calon
Kepala Desa. Secara berantai dari mulut ke mulut mulai dikenal masyarakat
sebagai calon Kepala Desa. Sejak saat itu masyarakat mulai menimbang-nimbang
sepak terjangnya selama ini, baik itu hal yang buruk maupun yang baik. Itu
wajar karena masyarakat memang berhak menilai dan menimang-nimang calon Kepala
Desa yang akan dipilihnya. Prinsip dalam menyatakan sikap pencalonan itu dinyatakan
dihadapan orang banyak. Terdapat 3 (tiga) cara yang dapat ditempuh dalam
mengumumkan pencalonan diri, yaitu :
4.4.1.
Cara Pertama : si bakal calon
mendatangkan warga.
Cara
ini dapat dinilai cukup efektif dan efisien karena tidak banyak membutuhkan
tenaga. Si bakal calon mencari momen yang tepat untuk mengundang orang-orang
yang dikehendaki. Cara mengundang warga dapat kemas dengan berbagai macam acara
yang lazim dilakukan warga desa. Acara akan lebih bermakna apabila diadakan
dirumah si calon dengan ritual sederhana sesuai adat kebiasaan yang berkembang
di desa itu.
Kelebihan
cara ini si bakal calon Kades tidak banyak membutuhkan waktu dan tenaga dengan
segera dapat bertatap muka dan dialog singkat dengan warga yang dikehendaki.
Sedangkan
kelemahannya adalah :
1)
Ada biaya pengeluaran
untuk konsumsi dan buah tangan (oleh-oleh) ;
2)
Tidak dapat berdialog
empat mata secara timbal balik agar lebih familier dan mendalam karena
terbatasnya waktu dan banyaknya tamu yang harus diperhatikan, dialog bersifat
searah seperti dalam rapat ;
Gambar
4.3. contoh foto suasana pernyataan sikap mencalonkan diri menjadi calon Kepala
Desa dilanjutkan ritual sederhana dengan pemotongan Tumpeng.
Dalam
kesempatan itu sebaiknya diundang untuk hadir para calon kader yang dijadikan
tim sukses, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda/
Karang Taruna, para ketua RT-RW dan para pejabat desa.
Cara
pertama ini cocok diterapkan bagi bakal calon yang punya dana cukup dan punya
masalah kesehatan yang tidak memungkin untuk beranjang sana ke rumah-rumah
warga.
4.4.2.
Cara
Kedua si
Bakal calon mendatangi warga.
Cara
ini dinilai tidak cukup efisien karena si Bakal Calon jemput bola
beranjangsana ke rumah-rumah warga yang dikehendaki. Langkah ini tentu perlu
banyak waktu dan banyak membutuhkan tenaga. Pada saat kunjungan anjangsana
Bakal Calon Kades dapat memanfaatkan kalangan terdekatnya untuk diajak ikut
serta anjangsana ke rumah-rumah warga. Langkah ini bertujuan untuk memberi
dorongan muril kepada bakal calon kades dalam meraih simpati warga yang
didatangi.
Kelebihan
cara ini si bakal calon Kades tidak banyak membutuhkan biaya dan sangat besar
pengaruhnya untuk mendapat simpati warga karena dapat bertatap muka dan dialog
langsung dari hati ke hati menjalin keakraban dan kekeluargaan yang lebih
mendalam dengan warga yang dikehendaki.
Sedangkan
kelemahannya adalah :
1)
Memerlukan waktu yang
cukup panjang ;
2)
Kemungkinan terkendala oleh medan sulit atau gangguan
cuaca;
3)
Butuh tenaga extra
untuk perjalanan panjang yang melelahkan ;
Gambar
4.4. contoh foto suasana anjangsana menyampaikan pernyataan sikap mencalonkan
diri menjadi calon Kepala Desa sambil beramah-tamah.
Dalam
cara kedua ini pada awal anjangsana sebaiknya yang dikunjungi lebih awal adalah
para calon kader yang dijadikan tim sukses, para tokoh masyarakat, tokoh agama,
tokoh adat, tokoh pemuda/ Karang Taruna, para ketua RT-RW dan para pejabat
desa, selanjutnya mengadakan kunjungan ke semua lapisan masyarakat tanpa
kecuali.
Cara
kedua ini cocok diterapkan bagi bakal calon yang mempunyai dana sangat
terbatas, tetapi punya tenaga cukup kuat berkeliling anjangsana kerumah-rumah
warga, dan yang lebih penting lagi waktu yang tersedia leluasa.
4.4.3.
Cara
Ketiga gabungan
cara pertama dan cara kedua.
Cara
ini dapat dinilai cukup efektif dan produkti karena dapat menutupi kekurangan
cara pertama dan cara kedua. Penggabungan cara ini akan saling mempertajam
pengaruh dan memperkokoh dukungan warga terhadap pencalonannya.
Cara ketiga
ini cocok diterapkan bagi bakal calon yang punya modal dana cukup kuat
ditunjang dengan tenaga yang kuat pula untuk beranjangsana ke rumah-rumah
warga.
4.5.
Perekrutan tim
sukses/kader.
Perekrutan kader lapangan yang juga sebagai anggota Tim
Sukses sangat membantu kelancaran pelaksanaan strategi untuk meraih dukungan.
Ibarat sebuah mobil Tim Sukses adalah mesin penggeraknya sedangkan Kader
Lapangan adalah roda yang selalu siap berputar digerakan oleh Tim Sukses itu.
Tim sukses idealnya dipilih dari orang yang pandai mengatur trategi, enerjik,
mempunyai pengaruh besar di masyarakat, kharismatik dan berwibawa serta mau,
mampu dan ada waktu untuk memperjuangkan pemenangan bakal calon. Sedangkan
kader lapangan sebaiknya dipilih dari orang-orang yang mempunyai mobilitas
tinggi seperti : tukang ojek, mlijo, pedagang keliling, para tokoh-tokoh
masyarakat, dan lain sebagainya.
Tugas pokok tim sukses adalah memenangkan bakal calon kades
yang diusungnya. Tim sukses dan kader yang baik adalah tim solid yang terbangun
karena panggilan hati yang tulus ikhlas berjuang tanpa pamrih dan tak kenal
lelah untuk kemenangan bakal calon yang jadi jagonya untuk tujuan mendudukan
calon kades yang amanah demi mencapai harapan masa depan masyarakat yang lebih
baik karena dipimpin orang yang tepat. Anggota tim sukses yang mengakar ini
biasanya dari kalangan keluarga, kerabat dekat, bekas teman sekolah atau
orang-orang tertentu yang mempunyai ikatan emosional dengan si bakal calon
kades. Dalam perekrutan kader/tim sukses harus tetap berhati-hati karena tidak
menutup kemungkinan ada orang yang sengaja disusupkan oleh pihak lawan untuk
menusuk dari dalam dan memata-matai langkah strategi tim ini.
Kader terbaik dari suatu tim sukses tidak lain adalah si
bakal calon Kades itu sendiri. Jika dibandingkan dengan kader yang paling
kharismatik manapun mereka adalah tetap yang terbaik karena pada hakekatnya
penentu kemenangan itu adalah si bakal calon kades itu sendiri. Oleh karena itu
si bakal calon kades harus extra aktif dalam keterlibatan langsung pelaksanaan
strategi pemenangannya. Saat menjelang pemilihan bakal calon kades ini menjadi
tokoh sentral di mana segala sepak terjangnya terus menerus menjadi perhatian
dan penilaian publik. Bakal Calon Kades menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan
strategi dan langkah tindakan (Action) kepada tim sukses itu baik karena hal ini dapat menambah
kepercayaan diri anggota Tim Sukses, tetapi pada saat-saat tertentu perlu
mengadakan Tindakan Turun Tangan (tripel T) artinya terjun langsung secara
aktif dilapangan karena hal ini begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan
dukungan .
4.6.
Pemetaan karakter
masyarakat desa dan peta pendukung.
Pemetaan bertujuan untuk mengetahui gambaran secara umum karakter
masyarakat dan mengetahui secara garis besar yang dikehendaki masyarakat itu,
dengan demikian memudahkan si Calon Kades mengatur strategi dengan menempatkan
posisi dirinya ke suatu arah yang banyak mendapat dukungan masyarakat. Selain
itu tujuan pemetaan ini untuk mengetahui letak dukungan sehingga memudahkan
dalam membuat perencanaan strategi yang akan dilaksanaan. Berikut ini
penjelasan pemetaan tersebut sebagai berikut :
4.6.1.
Pemetaan karakter
masyarakat.
Langkah
strategis dari calon yang cerdas adalah diawali dengan memetakan karakter
masyarakat, tujuan pemetaan ini adalah untuk menyederhanakan wilayah garapan
dan menentukan langkah strategi yang tepat pada komunitas masyarakat tertentu.
Komunitas yang ada di Pedesaan pada umumnya sebagai berikut :
1)
Kelompok seniman :
(anggota perkumpulan Kuda Lumping, ludruk, ketoprak, Wayang orang/kulit, drama,
Musik, terbang jidor, Reog, Tari, Ukir,
Lukis dan sebagainya), komunitas ini sudah tentu mempunyai karakter khusus,
untuk mendekati dan menarik simpatinya perlu dirumuskan strategi yang berkaitan
dengan kesenian itu dan pengembangannya.
2)
Kelompok Ekonomi
Pedesaan : Komunitas petani , komunitas masyarakat industry rumahan, komunitas
pedang pasar, komunitas buruh, dan
lain-lain.
3)
Kelompok keagamaan
: komunitas masyarakat pegiat keagamaan
baik muslim maupun non muslim, dan komunitas penggiat kepercayaan kepada Tuhan
YME,
4)
Kelompok Pemuda
Olahraga : Komunitas Pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna, Komunitas
Pemuda yang tergabung dalam kegiatan keagamaan, Komunitas pemuda yang tergabung
dalam kelompok olahraga.
5) Komunitas penggemar Vespa, Sepeda Ontel, dan lain-lain.
Berikut ini gambar
4.5. contoh table untuk mendata Kolompok/komunitas yang ada di desa dimaksud :
No.
|
Nama
kelompok/komunitas
|
Tempat keberadaan/ jumlah anggota
|
Nama Ketua
|
Keterangan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1.
|
Jamaah
Tahil / Yasin / Manakib ( Pria)
|
RW.1/
100
orang
|
Ustd
Arifin
|
Kegiatan
setiap malam jum’at
|
2.
|
Kelompok
Tani
|
Sawah
krajan/
25
orang
|
Ponari
|
Kumpul
1 bulan sekali di pondok pertemun sawah krajan
|
3.
|
Kelompok
sepakbola
|
Se
desa /
50
orang
|
Bambang
|
Latihan
setiap minggu 3 kali
|
4.
|
Sepeda
ontel
|
Se
desa /
25
orang
|
Fauzi
|
Setiap
Minggu pagi bersepeda bersama keliling kampong
|
5.
|
Kesenian
Kuda lumping.
|
Dukuh
Bocek
25
orang
|
Santiman
|
Latihan
dua minggu sekali
|
6.
|
Dan
seterusnya
|
Dengan pemetaan ini akan terdata berbagai kelompok atau
komunitas yang terdapat di desa itu. Banyaknya kelompok atau komunitas yang
muncul ke permukaan ini sebagai cerminan karakter maupun budaya masyarakat desa
itu, hal ini untuk memudahkan dalam menyusun strategi jitu untuk menarik
simpati masyarakat melalui keberadaan kelompok maupun komunitas yang berkembang
di masyarakat tersebut. Misalnya pada saat hadir di pertemuan kelompok
kesenian, akan mendapatkan perhatian lebih jika mengikuti alur yang sesuai
dengan yang diinginkan kelompok itu. Demikian juga saat menghadiri kelompok
komunitas yang lain, lebih baik mengikuti alur yang diinginkan kelompok itu dan
memberikan dorongan moral kepada mereka, kecuali saat menghadiri kelompok
keagamaan atau penghayat kepercayaan yang kebetulan berbeda keyakinan dengan si
calon kades, isi pembicaraan harus tetap bijaksana, saling menghormati
keyakinan masing-masing tanpa menyinggung perasaan komunitas itu. Yang perlu
digaris bawahi bahwa : kunjungan kepada kelompok atau komunitas itu sudah
memberi kesan positif karena merasa mendapat perhatian sehingga ada peluang
besar orang-orang yang tergabung sebagai anggota kelompok atau komunitas itu
menjatuhkan simpati dukungan kepada si calon Kades yang berkunjung itu,
4.6.2.
Pemetaan dukungan
warga
Bagian dari penyusunan rencana strategis adalah memetakan
banyaknya dukungan. Pemetaan banyaknya dukungan ini dibuat berorientasi pada
komunitas yang telah dipetakan. Bersamaan dengan itu dapat pula dibuat dengan
orientasi pada unsur kewilayahan , misalnya per RT / RW , Dusun atau Desa.
Gambar
4.6. Contoh table yang menggambarkan kekuatan dukungan :
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Adanya
pemetaan ini akan memberikan gambaran bagi Tim kerja untuk membuat perencanaan
dalam menentukan target yang diinginkan, dengan demikian semua langkah-langkah
strategis itu telah direncanakan dengan teliti, terprogram dengan rapi,
sehingga setiap langkah gerak akan terkoordinasi dengan baik, dapat terlaksana
dengan efisien dan efektif.
4.7.
Membuat rencana
kegiatan dan perencanaan anggaran.
Di
depan telah banyak diuraikan tentang berbagai macam kegiatan yang dapat
dilakukan oleh bakal Calon Kepala Desa dalam rangka menjaring simpati warga
dengan target sebanyak banyaknya menuju kemenangan Pilkades. Agar tidak terjadi
tumpang tindih dan kesemrawutan dalam pelaksanaan kegiatan itu yang ujung
ujungnya akan menimbulkan kebingungan dan pemborosan dana, maka perlu disusun
rencana kegiatan sekaligus penganggarannya juga. Rencana kegiatan dan penganggarannya dapat
disusun sesuai contoh pada gambar 4.7. table berikut ini :
No.
|
Rencana kegiatan
|
tujuan kegiatan
|
Lamanya
|
Anggaran
|
1.
|
2.
|
3.
|
4.
|
5.
|
1.
|
Anjangsana dari rumah kerumah
|
Silaturahmi
|
3 bulan
|
3 juta
|
2.
|
Anjangsana ke komunitas
masyarakat tertentu
|
Silaturahmi
|
1 bulan
|
3 juta
|
3.
|
0
|
4.8.
Faktor Keberuntungan
(Lucky)
Factor
keberuntungan ini datangnya tidak diduga duga jenisnyapun beraneka ragam,
karena hal ini adalah kehendak Tuhan YME. Ada suatu kisah nyata yang dapat
penulis ceritakan sebgai berikut : di suatu desa (tidak perlu penulis sebut
namanya), dalam pilkades terdapat dua calon Bacakades yang perbedaannya seperti
bumi dan langit, satu kaya raya sedangkn Bacakades yang satunya miskin raya (amat
miskin), pada saat pendaftaran semua persyaratan administrasi dapat dipenuhi
oleh Bacakades, tetapi pada saat pemenuhan biaya pemilihan, bacakades yang
satunya (yang miskin) sampai pada batas ketentuan toleransi waktu yang
diberikan ia tidak dapat memenuhi karena keterbatasan dana, panitia dibuat
kebingungan karena jika tidak diloloskan dalam pendaftaran maka hanya ada satu
calon, setelah waktu terus di olor pada akhirnya ada pihak ketiga yang
meminjami dana tersebut, karena merasa jengkel pihak pendukung si calon kaya
raya nyeletuk omongan “ Gak punya uang kok ya ngotot nyalon “, rupanya berawal
dari omongan yang bernada mencemooh itu timbul rasa iba dari yang mendengarnya,
rasa iba itu beralih menjadi simpati dan terus meluas dari mulut ke mulut
bergulir bagaikan bola salju. Akhirnya tanda diduga sebelumnya si Bacakades
yang miskin raya dapat memenangkan pilkades. Bila ditelaah secara mendalam bahwa
simpati itu timbul berawal dari perkataan yang bernada mengejek “ Gak punya
uang kok ngotot mencalonkan diri “. Dari pengalaman ini bisa dipahami bahwa soal kaya miskin dalam
pilkades tidak dapat dijadikan ukuran, bagi siapa yang cerdik memanfaatkan situasi
dan kondisi merekalah yang akan menuai kemenangan. Pandai-pandailah
memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.